Entah kenapa, beberapa hari ini terasa berbeda. Segalanya tidak senikmat minggu2 yang lalu. Seakan ada sesuatu yang hilang, dan sepertinya memang ada yang hilang.
Padahal, sama2 shalat, tapi koq terasa beda?
Padahal, sama2 puasa, tapi koq terasa beda?
Padahal, sama2 tilawah, tapi koq terasa beda?
Padahal, padahal… cuma satu minggu yang lalu, tapi koq sangat berbeda?
Satu minggu yang lalu, shalat terasa nikmat. Masjid2 terasa penuh, setiap orang terlihat antusias untuk ke masjid.
Satu minggu yang lalu, puasa terasa nikmat. Tidak ada beban apapun, setiap orang melakukan hal yang sama, kebersamaan pun terasa. Yang ada hanya kenikmatan saat berbuka.
Satu minggu yang lalu, tilawah terasa nikmat. Lidah terasa ringan untuk membaca ayat2Nya. Lantunan ayat suci pun menjadi melodi yang senantiasa mengiringi hari.
Tapi sekarang?
Dan, akhirnya saya pun sadar kalau saya kehilangan sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang sangat saya sesali. Tanpa disadari air matapun mengalir. Padahal, saya sering kehilangan harta dunia, tapi kenapa rasanya tidak semenyesal ini?
Setelah menghilang
Beberapa orang ada yang bergembira, tapi saya sama sekali tidak gembira. Apa yang harus saya gembirakan?
Beberapa orang ada yang merasa merayakan kemanangan, tapi saya sama sekali tidak merasa. Apa yang saya menangkan? Bukankah kemenangan itu hasil dari proses. Lalu proses apa yg sdh saya lakukan sehingga layak mendapatkan kemenangan?
Beberapa orang ada yang bermaaf2an, bukankah tiap melakukan kesalahan seharusnya meminta maaf?
Beberapa pun orang ada yang sedih, mungkinkah ini yang sedang saya rasakan?
Walaupun masih ada beberapa hal yang dapat menghibur saya. Saling mendoakan, saling menjaga silaturahim, kembali bersatu dalam Islam. Ahh terasa nikmat.
Namun, ketika itu semua sudah berakhir, rasa kehilangan itu pun kembali melanda. Semakin diingat, semakin sedih rasanya. Walaupun, entah kenapa saya ingin rasa ini tetap bertahan. Biarpun sedih, saya ingin terus merasakannya. Tetapi, jika ada satu do’a yang ingin saya minta kepada Allah saat ini. Mungkin itu hanya satu :
“AKU INGIN RAMADHAN KEMBALI!”



