UTP, Shift 6 BINUS & Musholla dadakan

Ehem2 dah skian lama ga nulis d blog ini, maklum sring lupa klo punya blog :-P. Hmm kali ini mo nulis apa yahh.. Dari judulnya koq ga nyambung sih? ywd jangan dipikirin lah…

Jadi bgini para pembaca skalian (kaya yg buka banyak aja). Bukan maksud dalam rangka Idul Adha, tapi saya ingin bercerita sedikit tentang UTP saya (??). Begini ceritanya :

Baru saja saya selesai UTP alias Ujian Tengah Praktikum mata kuliah Sistem Operasi a.k.a SisOp. Praktikum yang paling malas saya hadiri, padahal pelajarannya cukup mengasikkan menurut saya (karena pake linux). Lho koq bisa begitu? Ya karena jadwal praktikum saya kali ini merupakan jadwal yg paling ingin saya hindari, yaitu shift 6 BINUS atau pk 17.20-19.00 (ga percaya? liat d sini). Shift yang paling saya benci, kenapa? soalnya klo ditungguin sampe pk 19.00 nanti ga dapet maghrib, klo kluar sholat nanti ketinggalan pelajaran. Akhirnya dari 2 opsi tersebut saya pun lebih memilih nomor 2 dengan segala resikonya. Alhasil setiap praktikum, saya pun selalu keluar di tengah2 pelajaran untuk melaksanakan shalat maghrib, beruntungnya beberapa teman saya yang muslim pun juga ikut (walaupun hanya beberapa). Karena kami praktikum di lantai 7, masjid terletak di lantai dasar, untuk PP membutuhkan waktu paling cepat 15 menit, blom sholatnya, daripada lama akhirnya kami pun berpikir untuk membangun ‘musholla’ di lantai 7. Yup, Ada musholla di lantai 7 gedung baru anggrek!!! Yeah, lorong belakang gedung pun menjadi ‘musholla dadakan’ kami. Beberapa kali protekom, house keeping, ataupun orang2 lewat, tapi tak meluntuhkan semangat kami untuk sholat (ciee ileh). Minggu per minggu pun, dilalui oleh saya dan beberapa teman saya untuk sholat maghrib di musholla dadakan tersebut. Awalnya cuma saya cuma ber4. Lama kelamaan makhluk2 yang lain pun ikut insaf. Bahkan pernah shaffnya ampe penuh (lebay ah :-P ). Asik kan klo rame2. Pengalaman yang cukup uniq.

UTP pun menjelang, nah permasalahan muncul di sini. Ketika praktikum biasa, maka asisten lab akan dengan senang hati mengizinkan untuk keluar, tapi ketika ujian, tidak diperbolehkan, kecuali emang mau keluar lebih dulu dan ga bisa masuk lagi. Putar balik otak, beberapa ide muncul d benak saya :
1. Protes ke Binus tentang shift 6, bilang itu waktunya sholat
>> nampaknya sulit untuk merealisasikan ide ini sendiri, kecuali saya didukung teman2 muslim lainnya. Ide 1 gagal.
2. Ga ikut ujian dan izin sakit
>> ide ini pun sepertinya sulit, mengingat saya memang tidak sakit dan tidak mau berbohong.
3. Mengerjakan dengan cepat, dan keluar sebelum waktu Isya
>> ahh sepertinya hanya ini ide yang paling memungkinkan.
.. (ada ide lain?)
Akhirnya saya pun memilih ide 3 dengan segala resikonya. Menjelang UTP pun saya belajar mati2an (lebay, pdhl belajar h-1, males2an pula) demi tercapainya tujuan saya : Mendapat nilai tinggi tanpa harus meninggalkan sholat maghrib

Waktu UTP tiba! 17.20 teng! Dengan status sebagai juara 3 lomba bola keranjang tingkat TK, saya pun dengan percaya diri masuk ke dalam ruangan lab. Kursi no. 26, not bad. Langsung saja saya melahap soal2nya dengan buru2. Dalam UTP kali ini terdapat 2 model soal, yaitu 10 soal bash command yang berbobot 60% dan 1 soal programming dengan bahasa C yang berbobot 40%. Berbekal keseringan saya bermain di linux (thx ubuntu, i love u), 10 soal bash command pun saya hadapi tanpa banyak masalah berarti (blagu). Yeah, at least i got 60 points (hope that’s right). Cukup bermain2 dengan mkdir, mdoyok, dan teman2nya :)), Makasih bwt bung robee yang telah mmberikan tips2nya. Berlanjut ke soal berikutnya, programming, materi kali ini tentang pipe dan fork. Saya disuruh membuat program sederhana untuk menampilkan penjumlahan 2 buah bilangan di dalam child process yang penginputannya dilakukan di parent process. Nampaknya tidak sulit, namun berbekal belajar H-1, saya pun tampak kesulitan dsini. Ingat2 logika pipe dan fork, coding sana, coding sini, error sana, error sini, andddd yeahhh, akhirnya berhasil dicompile dengan gcc. Namun setelah dijalankan, hasilnya nampak tidak seperti yang diharapkan, ughhh :(. Waktu menunjukkan pukul 18:43. Waktu Isya pun sebentar lagi tiba, Akhirnya saya pun memutuskan untuk mengumpulkan jawaban seadanya dan keluar lebih dahulu. Walaupun cukup kecewa karena blom slsai, tapi daripada ga sholat!! blom tntu diem dsitu jg dapet hasil lbih bagus, hanya bisa berharap hasilnya tidak mengecewakan, amiin. Akhirnya buru2 saya keluar, dan melakukan ritual seperti biasa, shalat d musholla dadakan. Nampaknya kali ini hanya saya yang shalat d sana, kemana teman2?

Selesai, langsung menuju ke masjid bawah. Saya pun bersyukur masih diberikan waktu untuk shalat. Ketika mengambil air wudhu ada seseorang yang bertanya : “Mas, maghrib uda lewat blom?”. Saya jawab “wah kurang tau mas, blom denger adzan isya sih”. Nampaknya orang tersebut belum melaksanakan shalat maghrib, melihat jam di masjid waktu menunjukkan pukul 18.55. Tak lama setelah itu, adzan isya pun berkumandang. Saya pun berpikir “Ah betapa tidak beruntungnya orang tadi, padahal ingin melaksanakan shalat maghrib. Mungkin dia pun baru keluar kelas karena terkena kutukan shift 6 BINUS. Lalu bagaimana dengan teman2 saya yang tertahan di lab tadi? bagaimana dengan yang lainnya yang tertahan di kelas?”. Bingung, tidak dapat berpikir lagi. Saya pun shalat isya disertai banyak pikiran tadi (ya Allah maafkan hambaMu ini).

Shift 6 BINUS Oh shift 6 BINUS. Walaupun sudah beberapa kali mendapatkan shift ini, tapi kali ini sepertinya saya baru merasakan ketidaknyamanan yang besar. Mungkin saat kuliah teori yang notabenenya membosankan :-P maka saya akan memilih shalat terlebih dahulu, ataupun terkadang dosennya lebih cepat keluar karena menggabungkan shift (beberapa dosen pun muslim). Namun ketika praktikum hal ini agak sulit dilakan. Beruntungnya ketika dulu mendapatkan jadwal praktikum shift 6 (mata kuliah Jaringan Komputer), tetapi ujiannya tidak dilakukan di shift tersebut. Yeah, not bad lah, pas praktikumnya bisa kluar2 dlu. Namun kali ini sepertinya agak sulit mengingat UTP SisOp dilaksanakan pada jam yang sama denga praktikumnya. Saya pun kembali harus menjalani UAP(Ujian Akhir Praktikum) di jam yang sama, hanya dapat berharap diberikan kemudahan dalam berbagai hal. Nampaknya bukan hanya saya yang merasakan ketidaknyamanan dengan hal ini. Mungkin para muslim BINUS lainnya pun merasakannya. Jadi kira2 bagaimana solusi untuk masalah ini ya? Ya Allah berikanlah hambaMu kemudahan… Amiin

Share/Save/Bookmark

Random Posts

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *